Ikuti @fauzinesia

Pesantren Darul Hijrah

enonk eno 2 6/27/2012
Profil Pesantren
Pondok,masjid, santri, pengajaran Kitab-kitab Islam klasik dan kyai merupakan lima elemen dasar dari tradisi pesantren. Ini berarti bahwa suatu lembaga pengajian yang telah berkembang hingga memiliki kelima elemen tersebut, akan berubah statusnya menjadi pesantren. Orang biasanya membedakan kelas-kelas pesantren dalam tiga kelompok yaitu pesantren kecil, menengah, dan pesantren besar.
Pesantren yang tergolong kecil biasanya mempunyai jumlah santri dibawah seribu dan pengaruhnya terbatas pada tingkatan kabupaten. Pesantren menengah biasanya mempunyai santri antara seribu sampai dengan dua ribu orang, memiliki pengaruh dan menarik santri-sntri dari beberapa kabupaten. Pesantren besar biasanya memiliki santri lebih dari dua ribu orang yang berasal dari berbagai kabupaten dan provinsi.
Beberapa pesantren besar memiliki popularitas yang dapat menarik santri-santri, contohnya saja Pondok Pesantren Darul Hijrah khusunya yang biasanya disematkan sebagai Pesantren Gontor Di Kalimantan Selatan.

1. Sejarah Kelahiran


Latar belakang berdirinya PP Darul Hijrah sendiri berawal dari keinginan alumni Pondok Pesantren Modern Gontor untuk meniru almamaternya dan mendirikan pondok pesantren ala Gontor di Kalsel. Selain itu, Gontor sendiri juga memiliki obsesi untuk menciptakan seribu Gontor di seluruh penjuru Indonesia.
Keinginan Gontor tersebut tumbul utamanya karena niat yang dilandasi perjuangan Islam. Di samping itu, kondisi lain yang juga memperkuat keinginan tersebut ialah banyaknya calon santri dari seluruh Iindonesia yang ingin masuk ke Gontor, namun terpaksa ditolak karena ketidakmampuan Gontor untuk menampungnya.
Pada tahun 1956, sejak kembalinya dari Gontor, KH Gazali Mukhtar sudah bercita-cita mendirikan pondok ala Gontor. Beliau kemudian membangun madrasah di kampung beliau sendiri, Rukam Amuntai. Namun, madrasah yang beliau dirikan tidak dapat dikembangkan menjadi pondok pesantren, karena kondisi saat itu memang belum memungkinkan. Pasalnya, mendirikan pondok sendirian tentu terlalu berat. Pada perjalanannya, sekitar tahun 1971, beliau mulai mengirim kader ke Gontor. Beliau sendiri yang mengantar langsung ke Gontor. Dalam angkatan pertama tersebut, terdapat satu anak beliau dan lima orang keponakan. Pengiriman itu terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
Sebelum tahun 1980, beliaupernah membuat panitia persiapan pendirian pondok. Pernah pula mencari tanah untuk pondok, diantaranya di Sungkai dan Pelaihari. Namun, cita-cita ini baru terwujud setelah berdirinya PP Darul Hijrah seiring dengan terbentuknya Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Kalsel.Di lain pihak, KH Zarkasyi Hasbi Lc yang juga merupakan alumni Gontor, sejak masih mondok di Gontor, sudah diarahkan oleh pimpinan Gontor untuk mendirikan pondok di Kalsel. Pada bulan April 1978, beliau menandatangani perjanjian untuk mendirikan sebuah pondok pesantren di Kalsel. Sebelumnya, terlebih dahulu dibentuk Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Kalsel dan pelantikan pengurus pada tahun 1983.
Pimpinan Gontor waktu itu, KH Imam Zarkasyi mendapat menantu orang Banjarmasin. Kedatangan sejumlah alumni Gontor asal banua seperti KH Saiman Luqmanul Hakim, KH Abdullah Syukri Zarkasyi,KH Hasan Sahal, dan Ustadz Imam Subakir Ahmad ke Banjarmasin untuk menghadiri acaraperkawinan yang dihelat di Banjarmasin, dimanfaatkan untuk membentuk IKPM Kalsel. Setelah dibentuk, pengurus yang terpilih antara lain HM Yamin Mukhtar sebagai ketua, H Syahrudi Ramli sebagai wakil ketua, dan M Nasrul Mahmudi sebagai sekretaris.
Dalam pidatonya, KH Saiman Luqmanul Hakim sebagai utusan dari pimpinan Gontor menekankan pentingnya pendirian pondok ala Gontor di Kalsel.Dari perjalanan rombongan yang dikawal oleh M Nasrul Mahmudi dan A Syaukani Arsyad ke Hulu Sungai sampai Amuntai, tercetuslah pemikiran Ustadz Imam Subakir dan KH Saiman Luqmanul Hakim bahwa tanah yang cocok untuk pondok itu berlokasi di Banjarbaru. Sekitar satu tahun kemudian, KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan Ustadz Imam Subakir datang lagi ke Banjarmasin dalam rangka pelantikan IKPM cabang Balikpapan dan IKPM cabang Kandangan. Keduanya kembali menganjurkan kepada IKPM Kalsel agar mengusahakan pendirian pondok di Kalsel.Sebelumnya, IKPM sudah pernah mengusahakan pendirian pondok di kawasan Banua Anyar Banjarmasin dan Bintok Pelaihari, tapi tidak membawa hasil.
Dari dua latar belakang dan tiga usaha embrio mendirikan pondok tersebut, semuanya tidak terlepas dari Gontor. Sehingga pada saat membuat akte notaris pendirian pondok, dikehendaki agar pimpinan PP Darul Hijrah haruslah alumni Gontor atau alumni PP Darul Hijrah sendiri. Diatas tanah wakaf dari H Ady Syahrani seluas 15 hektar yang akte wakafnya ditanda tangani pada tanggal 14 Maret 1986, akhirnya berdirilah PP Darul Hijrah. Karena luasnya hanya sekitar 11 hektar, maka penambahan wakaf tanah seluas empat hektar sisanya dipenuhi di daerah Batung yang sekarang menjadi PP Darul Hijrah Puteri.
Tanggal yang diakui saat berdirinya Pondok Pesantren Darul Hijrah ini adalah tanggal 23 Agustus 1986. Hal tersebut dibuktikan dengan ditetapkannya tanggal 23 Agustus 1986 sebagai hari ulang tahun Pondok Pesantren Darul Hijrah. Latarbelakang ditetapkannya tanggal 23 Agustus sebagai tanggal berdirinya Pondok pesantren Darul Hijrah ini adalah karena tanggal itu adalah tanggal berdirinya bangunan sederhana pondok dengan 4 orang santri.
Secara umum, pendidikan dan pengajaran di PP Darul Hijrah dimulai pada bulan Agustus 1986. Karena terlambat dari tahun ajaran yang semestinya, yaitu bulan Juli, sehingga santri pertamanya hanya empat orang. Sedangkan PP Darul Hijrah Putri sendiri baru beroperasi pada tahun pelajaran 1997/1998.

2. Kondisi Umum Pesantren Darul Hijrah
Pondok Pesantren Darul Hijrah berlokasi di desa Cindaialus RT. 8, kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, provinsi Kalimantan Selatan, PO Box 40 Banjarbaru. Lokasi tersebut termasuk ke dalam kategori pedesaan, dimana jarak dari lokasi ke pusat kota kecamatan kurang lebih 5 Km.
Kondisi geografis dari lokasi dimana Pondok Pesantren Darul Hijrah berada termasuk ke dalam daratan rendah pedalaman. Artinya, lokasinya berada cukup jauh dari pesisir akan tetapi termasuk daratan rendah, bukan daerah pegunungan.
Secara keseluruhan, Pondok Pesantren Darul Hijrah berdiri di atas tanah wakaf seluas 15 hektar, dengan rincian, 11 hektar digunakan untuk Pondok Putera, dan 4 hejtar digunakan untuk Pondok Puteri.

3. Model Pendidikan
Sampai dengan tahun pelajaran 2005/2006 ini PP Darul Hijrah telah memiliki 4 lembaga pendidikan yakni:
a) Madrasah Tsanawiyah terakreditasi A
b) Sekolah Menengah Pertama terakreditasi A
c) Madrasah Aliyah terakreditasi A
d) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab Terdaftar
Dalam rangka peningkatan kualitas pengajar PP Darul Hijrah berupaya memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pendidikan lanjut maupun mengikuti pelatihan. Lulusan PP Darul Hijrah yang berprestasi dan memiliki disiplin yang baik, juga diberi kesempatan untuk mengabdi selama 1 tahun. Apabila menunjukkan dedikasi yang baik dapat diterima untuk mengabdi pada tahun berikutnya.
PP Darul Hijrah secara maksimal terus meningkatkan dan melengkapi sarana dan prasarana menunjang pelaksanaan pendidikan dan pengajaran seperti pembangunan gedung Ruang Belajar, Perpustakaan, perbaikan asrama. Dan pemanfaatan sarana penunjang lainnya telah digunakan secara maksimal untuk berbagai kegiatan-kegiatan KBM, olahraga, pelatihan.
Untuk membina santri agar tetap displin dalam belajar maupun dalam melaksanakan kegiatan, di Pondok Pesantren Darul Hijrah diadakan peraturan dan sanksi. Jumlah keadaan santri yang melanggar tercatat dalam buku pelanggaran santri pada bagian pengasuhan.
Wajar saja Darul Hijrah sekarang begitu tenar. Berbagai macam prestasi yang didapat santri dan santriwatinya dari berbagai ajang lomba kesiswaan mengangkat nama dan marwah pesantren yang terletak di desa Cindai Alus ini, mulai dari lomba kecerdasan, seni, pramuka, bahkan olahraga. Lebih-lebih, semua orang mengenal Darul Hijrah sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tradisi penguasaan bahasa asing, Arab dan Inggris, dimana santri-santriwatinya mampu bercakap-cakap dengan kedua bahasa tersebut, serupa dengan Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo sana. Tentu saja, Islam sebagai landasan utamanya menegaskan superioritas pesantren yang didirikan tahun 1986 ini di antara sekolah-sekolah menegah lain.
Puncaknya, Darul Hijrah Putra baru-baru ini meresmikan Madrasah Aliyah berstandar internasional, tentu saja dengan perangkat sekolah dan sistem yang begitu modern. Sedang Darul Hijrah Putri berhasil mempublikasikan diri di ajang Pramuka nasional di Cibubur dengan meraih kemenangan dan segepok uang yang kemudian digunakan untuk membangun kegiatan Marching Band, suatu kegiatan yang tak dimiliki sekolah dasar dan menengah Islam mana pun di daerah kita. Dengan itu semua, maka ketenaran pun tak dapat terelakkan.
Dalam konteks pondok modern, pendidikan multikulturalisme sesungguhnya telah menjadi pendidikan dasar yang tidak hanya diajarkan dalam pengajar formal di kelas saja. Tapi juga dilakukan dalam kehidupan sehari-hari santri. Pendidikan formal multikulturalisme diwujudkan dalam bentuk pengajaran materi keindonesiaan/kewarganegaraan yang telah dikurikulumkan. Sistem pengajaran di pondok modern yang didominasi bahasa asing (Arab dan Inggris) sebagai pengantar, tidak melunturkan semangat pendidikan multikulturalisme anak didik (santri). Karena materi ini ditempatkan sebagai materi primer dan harus diajarkan dengan medium bahasa Indonesia pula.


BAB III
PENUTUP

Simpulan
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, Pondok Pesantren Darul Hijrah merupakan wadah pendidikan generasi-generasi muda Islam yang diharapkan berkualitas. Sebagai pondok pesantren, Darul Hijrah melaksanakan pendidikan selama 24 jam penuh setiap hari.
Tak dapat disangkal bahwa Darul Hijrah adalah sebuah pondok pesantren yang sejatinya merupakan wadah pendidikan ilmu-ilmu agama, serta pengembangan ilmu-ilmu tersebut. Pesantren merupakan “pertahanan terakhir” bagi kehidupan peradaban Islam melalui pendidikan dan pengajaran, sehingga Islam sangat mengandalkan pesantren bagi kelangsungan eksistensinya di era kaburnya batas-batas identitas sekarang ini.



DAFTAR PUSTAKA

Dhofier Zamakhsyari, 1983, Tradisi Pesantren, Jakarta: PT. Matahari Bhakti.
Muin Abd. M, 2007, Pesantren dan Pengembangan Ekonomi Umat, Jakarta: CV.Prasasti.
vivixtopz.wordpress.com/.../pesantren-modern-dan-pendidikan-...
we-care-we-share.blogspot.com/.../mengenal-pondok-pesantren-daru...
yunizar84.blogspot.com/.../pondok-pesantren-darul-hijrah-waspada..

ARTIKEL TERKAIT:

2 Ninggal jejak

Post a Comment

Mari kasih komentar, kritik, dan saran. Jangan lupa juga isi buku tamunya. :D

NB: No Porn, No Sara', No women, No cry

Cari disini

 photo logobloggeryeskompres.png
logo blogger banua taken at randi azmi blog photo bloggerbanua_zpsc4d799fd.png
donor photo Reinhart-Blood-Drive.png
 photo d39e79d0-9aac-4f0f-b6d9-9fc59330d1a2-2.png

Cerita² Enonk

#Pengunjung

Instagram